Assalamu'alaikum
Ahlan wa Sahlan
Tuesday, October 5, 2010
Praktikum Word I
Microsoft Word atau lebih populer dengan sebutan MS Word merupakan program pengolahan kata Under Windows terpopuler saat ini. Sehingga penguasaan atas program ini menjadi sangat penting baik sebagai ilmu untuk kepentingan pribadi maupun sebagai bekal bekerja. Selamat untuk keputusan anda belajar MS Word.
Menentukan Font, paragraph, Spasi dan Perataan
Untuk mengatur Font; (jenis dan ukuran huruf) blok, klik Font Tool Bar: pilih (misal Times New Roman) dan kilk Font Size : pilih (misal 12 untuk ukuran normal).
Untuk membuat paragraph; cukup mem-blok paragraph dan menggeser dua buah tanda segitiga pada Ruler. Segi tiga yang atas untuk mengatur baris pertama, sedangkan yang bawah untuk mengatur baris berikutnya.
Dan variasi cetak/style; diatur dengan Tool Bar: Bold (tebal),Italic (mirimg), Underline (garis bawah) atau Bold + Italic (sekaligus tebal dan miring).
Untuk mengatur spasi; digunakan menu: Format, Paragraf, Line Spacing, pilih: Single,1,5 Line atau Double.
Untuk mengatur perataan; blok, kemudian klik pada Tool Bar : Align Left, center, align Right atau Justify.
Catatan: Untuk teks dibawah ini digunakan Font Arial 11, dan penomorannya digunakan cara otomatis: Blok, Numbering Tool Bar. Sedangkan untuk menghilangkan nomor yang tidak terpakai klik pada nomor tersebut, klik Numbering Tool Bar.
Menyimpan dan membuka file (diketik dengan font Arial 11)
1. Untuk menyimpan file digunakan menu File, diikuti Save.
2. Tulislah nama file pada box File Name:…, Kemudian pada box Save in: pilihlah 3,5 Floppy A ( atau tempat yang diinginkan) diikuti menu Save.
3. Untuk menyimpan kedu dan seterusnya cukup dengan memilih File, Save atau klik icon Save pada Toolbar, dan tidak perlu memberi nama. Apabila menyimpan dengan merubah nama gunakan menu; File, Save As.
4. Untuk membuka file yang tersimpan pilihlah menu; File, Open pada Look in: pilih 3,5 Floppy A (atau tempat file yang diinginkan), kemudian klik pada nama file yang muncul, diikuti menu Open.
Mengatur Lay Out Halaman (font Courier New 11, spasi 1,5)
Untuk mengatur jenis kertas digunakan menu File, Page Setup, Paper Size, pilih ukuran 8,5 x 11 jika kuarto, atau 8,5 x 13 jika folio. Ukuran juga dapat dibuat sendiri dengan mengatur pada width (lebar) dan height (tinggi). Pilihlah Margins untuk mengatur batas-batas atas (top), bawah (bottom), kiri (left) dan kanan (right).
Catatan: untuk keluar dari Ms Word pilihlah menu File, Exit, atau langsung klik tanda silang di pojok kanan atas (close), atau tekan tombol Alt-F4. Sedangkan untuk mengakhiri program windows dengan menu Start, Shut Down, Yes atau OK.
Friday, December 18, 2009
Makna Hijrah dalam Konteks Kinerja
Secara harfiyah, hijrah dimaknai dengan berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Sedangkan secara terminologi konteks hijrah dimaknai dengan pindahnya Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah. Pemaknaan hijrah kemudian berkembang dan berubah tidak hanya perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi lebih ditekankan pada makna perubahan (transformasi) dari satu kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik.
Dalam konteks kinerja, maka hijrah dapat dipahami dengan semangat untuk senantiasa berkreativitas, berinovasi, dan berusaha untuk selalu meningkatkan performance diri. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka keyakinan yang harus tetap kita pegang adalah sebagaimana firman Allah SWT; dalam QS: 9: 40 bahwa, di manapun kita berada, senantiasa dalam pengawasan dan lindungan Allah SWT. Kita harus yakin bahwa ketika kita sedang berdua maka yang ketiga adalah Allah SWT. Untuk itu dengan datangnya tahun baru hijriyah 1431 H ini, sudah sepantasnya kita memperbaharui semangat kita untuk terus berkreativitas, berinovasi, dan berjuang untuk mendapatkan hari esok yang lebih baik dari hari ini dan hari kemarin.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan bimbingan kepada kita semua, amin.
Thursday, November 26, 2009
khutbah idul adha 1430 H
NILAI-NILAI SPIRITUAL DAN EMOSIONAL
DALAM IBADAH KURBAN
KHUTBAH IDUL ADHA 1430 H
DI STAIN
Oleh:
Imam Makruf, S.Ag., M.Pd.*
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر 9×
اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، وَصَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْنَ وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ واَحِدَةٍ مِنْ غَيْرِ الأُمَمِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُواْلجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ. اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِيْ الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ صَلِ وَسَلِّمْ عَلَى حِبِيْبِنَا الْمُصْْطَفَى، الَّذِيْ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى اْلأَمَانَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَاإِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ. أَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْفَازَ الْمُتَّقُوْنَ!
Jama'ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kita dapat berkumpul di tempat ini dalam rangka menunaikan shalat Idul Adha berjama'ah. Ibadah tahunan seperti ini merupakan wujud dari syi'ar agama Islam dan bukti adanya ukhuwah islamiyah yang selalu kita bangun dalam kehidupan bermasyarakat. Pelaksanaan shalat Idul Adha ini diiringi dengan dikumandangkannya takbir, tahlil, dan tahmid yang merupakan ungkapan syukur dan pengagungan asma Allah SWT. Lantunan kalimah tayyibah tersebut merupakan bagian dari kelezatan ruhaniyah yang dapat dinikmati oleh orang-orang yang beriman.
Allahu akbar 3X walillahilhamd.
Jama'ah shalat Idul Adha yang berbahagia
Setiap tahun kita melaksanakan shalat Idul Adha. Setiap tahun pula kita melaksanakan kurban. Bahkan pada saat ini kurban tidak lagi hanya dilaksanakan oleh orang-orang yang mampu atau kaya. Hampir semua orang saat ini berusaha untuk melaksanakan kurban meskipun dengan cara arisan, patungan, atau cara-cara lain yang berkembang di masyarakat. Terlepas dari persoalan khilafiah tentang hukum dari kurban yang dilaksanakan tersebut, sebenarnya terdapat motivasi dan hirrah yang kuat dari umat Islam untuk melaksanakan syari'at agama Islam dengan segala daya dan upaya. Tentu saja hal itu merupakan wujud dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT yang semakin meningkat di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, menurut khatib, biarlah upaya-upaya yang dilakukan umat Islam untuk berlatih dan membiasakan diri melaksanakan ajaran agama tersebut berkembang di tengah-tengah umat Islam, sembari diarahkan bagi yang sudah mampu untuk melakukan kurban secara mandiri. Rasulullah saw juga telah mencontohkan beliau menyembelih kambing kurban dengan niat untuk beliau sendiri, untuk diri dan keluarga beliau, bahkan untuk umat Islam dan siapa saja yang tidak mampu melakukannya. Kisah tersebut dimuat dalam kitab Naylul Authar hadits nomor 2098 dan 2099.
Dasar disyari'atkannya ibadah kurban adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Kautsar: 1 – 3:
Artinya:
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.
Penjelasan yang terkait dengan amalan kurban tersebut juga dijelaskan oleh Allah SWT dalam QS: Al-Hajj: 36-37 dengan firman-Nya:
Artinya:
36. dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.
37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Kaum muslimin rahimakumullah.
Perintah untuk menyembelih kurban bukanlah semata-mata amalan lahiriyah sebagai bentuk pengurbanan seorang hamba kepada Allah SWT. Amalan kurban sarat dengan muatan makna spiritual dan emosional. Dengan demikian orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual dan emosionallah yang mampu melakukan amalan kurban secara baik. Dalam ayat 36 tersebut dijelaskan bagaimana amalan lahiriyah tersebut harus dilakukan, yaitu cara menyembelih dan membagikan daging kurban. Kemudian pada ayat 37 ditegaskan Allah SWT bahwa hakikat dari penyembelihan kurban tersebut adalah manifestasi ketakwaan kepada Allah SWT yang didasarkan atas keikhlasan, ketundukan atas perintah Allah, dan motivasi yang kuat untuk mendapatkan ridha Allah SWT.
Begitu pentingnya makna dari perintah kurban tersebut, sehingga Rasulullah saw bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ s: مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا.
{رواه أحمد وبن ماجه}.
Artinya:
“Rasulullah Saw. bersabda: ”Barangsiapa diberikan keluasan rizki dan tidak mau menyembelih hewan qurban, maka janganlah dekat-dekat dengan masjid kami.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah).
Semoga semua umat Islam yang menjalankan perintah Allah SWT dengan menyembelih hewan kurban pada tahun ini mendapatkan ridha dari Allah SWT dan mendapatkan derajat ketakwaan yang tinggi di hadapan Allah SWT. Amin.
Allahu akbar 3X walillahilhamd.
Jama'ah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering menyaksikan berbagai perilaku yang bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, baik dalam bidang hukum, sosial-budaya, pendidikan, ekonomi, atau bidang-bidang yang lain. Dalam bidang hukum, misalnya akhir-akhir ini kita menyaksikan adanya proses penegakan hukum yang menimbulkan perdebatan, adanya mafia peradilan, makelar kasus, dan banyak lagi yang lain sehingga menjadikan praktik peradilan tidak sesuai dengan ajaran agama. Dalam bidang budaya, kita menyaksikan semakin banyaknya budaya asing yang masuk dan merusak akhlak putra putri kita, dengan semakin mudahnya akses informasi melalui internet, dan semakin tipisnya filter yang dapat diberikan oleh pemerintah, lembaga pendidikan, maupun oleh orang tua dalam keluarganya masing-masing. Dalam bidang ekonomi, kita menyaksikan banyaknya korupsi, praktik riba, jual beli yang tidak dibenarkan agama, semakin lebarnya jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin, dan masih banyak lagi fakta yang dengan mudah dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari.
Terdapat hubungan yang sangat erat antara korupsi dengan kemiskinan. Dalam penelitian Gupta et al (1998) terhadap 38 negara berbeda, terungkap bahwa korupsi memiliki beberapa dampak. Pertama, korupsi menyebabkan meningkatnya kesenjangan pendidikan, rendahnya rata-rata lama masa bersekolah penduduk, dan ketidak-seimbangan distribusi lahan dan kekayaan alam. Dengan kata lain, akan menciptakan kebodohan dan ketidakadilan penguasaan sumberdaya alam. Kedua, korupsi menyebabkan kurang efektifnya social spending (belanja sosial). Padahal belanja sosial ini, terutama yang bersumber dari APBN, sangat dibutuhkan untuk menanggulangi kemiskinan. Ketiga, korupsi menghambat pertumbuhan ekonomi. Keempat, korupsi akan mengurangi pendapatan pajak, padahal ia merupakan sumber penerimaan keuangan negara yang utama.
Dalam tinjauan agama, perilaku korupsi sangat dilarang dalam Islam, sebagaimana firman Allah dalam QS: Al-Baqarah: 188:
ŸArtinya:
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.
Perilaku korupsi hanyalah salah satu perilaku tercela yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki keimanan dan ketakwaan yang baik. Untuk itu perilaku tersebut tidak akan dapat disembuhkan dengan penegakan hukum semata, tetapi harus diterapi dengan amalan-amalan yang dapat meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang dapat membawa kita kepada peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT adalah kurban.
Ibadah kurban memiliki nilai-nilai spiritual dan emosional yang dapat menghindarkan kita dari penyakit-penyakit rohaniah dan membawa kita kepada ketakwaan kepada Allah SWT. Di antara nilai spiritual tersebut keikhlasan, kesabaran, dan khusudzan kepada Allah SWT. Ketiga nila tersebut bersumber dari ayat-ayat Al-Qur'an.
1. Keikhlasan
Allah SWT berfirman dalam QS: Ali Imran: 92
Artinya:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Ayat tersebut juga berdekatan maknanya dengan firman Allah SWT dalam QS: Al-Hajj: 37
Artinya:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
2. Kesabaran
Nilai kesabaran dalam ibadah kurban dapat dilihat dari kisah Ibrahim as. dengan putranya Ismail as. yang diabadikan dalam QS; Ash-Shaffat: 103
Artinya:
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
3. Khusnudzan kepada Allah SWT
Nilai khusnudzan telah dicontohkan dalam firman Allah SWT pada QS; Ash-Shaffat: 104-105 berikut
Artinya:
104. dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
[1284] Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksanakannya.
Ibrahim as telah menunjukkan sikap yang tunduk dan patuh kepada perintah Allah SWT karena dilandasi oleh sifat khusnudzan kepada Allah SWT. Sifat ini juga ditunjukkan Ibrahim as ketika diperintah Allah untuk memindahkan istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail as ke sebuah lembah di Makkah, suatu tempat yang belum ada kehidupan di sana. Ibrahim melaksanakan perintah tersebut tanpa adanya curiga akan akibat buruk dari perintah Allah tersebut. Begitu pentingnya khusnudzan tersebut sehingga Rasulullah saw bersabda:
لاَ تَمُوْتُنَّ اَحَدٌ مِنْكُمْ اِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالىَ (رواه مسلم وابو داود)
Artinya:
Janganlah salah seorang dari kalian mati, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah SWT. (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Kaum muslimin jama'ah shalat Idul Adha rahimakumullah.
Selain nilai-nilai spiritual tersebut, juga terdapat nilai-nilai emosional diantaranya adalah nilai kepedulian terhadap orang lain, dan menghilangkan sifat egoisme. Kedua nilai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kepedulian terhadap orang lain
Pengurbanan Ibrahim dan Ismail dalam menjalankan perintah Allah tersebut memiliki makna luar biasa dalam kehidupan manusia. Betapa tidak? Kesediaan berkurban yang dilakukan Ibrahim sejatinya bermuara pada bentuk atau perwujudan kepedulian sosial.
Penyembelihan hewan kurban dan membagikan dagingkan kepada orang lain merupakan media yang sangat baik untuk melatih sikap kepedulian terhadap orang lain. Ketentuan syari'at yang tidak memperbolehkan orang yang berkurban untuk memakan daginya kurbannya melebihi sepertiga merupakan wujud dari anjuran untuk peduli kepada sesama. Dengan demikian orang yang melakukan ibadah kurban akan terlatih untuk mengaktualisasikan nilai kepedulian terhadap orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menghilangkan sifat egoisme
Ketika Ibrahim as melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail as, beliau telah menanggalkan egoismenya sebagai orang tua atau bahkan sebagai manusia. Beliau telah mengalahkan kecintaannya kepada anaknya demi kecintaannya kepada Allah SWT. Digantikannya kurban Ibrahim dengan binatang (kambing) mengandung makna bahwa kita harus menyembelih hawa nafsu hayawaniyah dan rasa gengsi atau egoisme kita di hadapan Allah SWT. Binatang ternak sebagai simbol dari kekayaan juga memberikan pelajaran agar kita tidak memiliki sifat hubbud dunya (cinta yang berlebihan kepada harta duniawi).
Allahu Akbar 3X walillahilhamd.
Jama'ah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah SWT.
Demikianlah khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga dengan pelaksanaan ibadah kurban pada tahun ini, dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, memberikan motivasi kepada kita agar lebih banyak mengaktualisasikan nilai-nilai spiritual dan emosial yang terkandung di dalamnya. Amin ya rabbal 'alamin.
بارك الله لى ولكم بالقر آن العظيم. ونفعنى وا يّاكم بما فيه من ا لايات والذّكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين.
الخطبة الثانية
الله اكبر 6×
اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، وَصَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدانَا لِدِيْنِ الإِسْلاَمِ, وَاَرْسَلَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسَائِرِ الْخَلْقِ وَالأُمَمِ, وَهُوَ سَيِّدُ اْلأنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَخَيْرُ اْلَبشَرِ وَاْلأناَمِ. اَشْهَدُ اَنْ لا اِلهَ اِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنِ. اَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ, اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنََ, وَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَدْ قَالَ تَعَالى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ يَآ أيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا، إِنَّهَا سَاءتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَعَلَيْكَ الْبَلَاغُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Tuesday, September 29, 2009
طرائق تعليم اللغات الأجنبية
طريقة القواعد والترجمة:
من أقدم الطرائق التي استخدمت في تعليم اللغات الأجنبية، وما زالت تستخدم في عدد من بلاد العالم .تجعل هذه الطريقة هدفها الأول تدريس قواعد اللغة الأجنبية، ودفع الطالب إلى حفظها واستظهارها، ويتم تعليم اللغة عن طريق الترجمة بين اللغتين: الأم والأجنبية، وتهتم هذه الطريقة بتنمية مهارتي القراءة والكتابة في اللغة الأجنبية. ومما يؤخذ على طريقة القواعد والترجمة: إهمالها لمهارة الكلام وهي أساس اللغة، كما أن كثرة اللجوء إلى الترجمة، يقلل من فرص عرض اللغة الأجنبية للطلاب، أضف إلى ذلك أن المبالغة في تدريس قواعد اللغة الأجنبية وتحليلها يحرم الطلاب من تلقي اللغة ذاتها؛ فكثيراً ما يلجأ المعلم الذي يستخدم هذه الطريقة إلى التحليل النحوي لجمل اللغة المنشودة ويطلب من طلابه القيام بهذا التحليل . واهتمامها بالتعليم عن اللغة المنشودة أكثر من اهتمامها بتعليم اللغة ذاتها . تستخدم هذه الطريقة اللغة الأم للمتعلم كوسيلة رئيسية لتعليم اللغة المنشودة . وبعبارة أخرى تستخدم هذه الطريقة الترجمة كأسلوب رئيسي في التدريس . وبإيجاز فإنّ هذه الطريقة تمتاز بما يلي :
1_ تهتم هذه الطريقة بمهارات القراءة والكتابة والترجمة , ولا تعطي الاهتمام اللازم لمهارة الكلام.
2_ تستخدم هذه الطريقة اللغة الأم للمتعلم كوسيلة رئيسية لتعليم اللغة المنشودة . وبعبارة أخرى تستخدم هذه الطريقة الترجمة كأسلوب رئيسي في التدريس .
3_تهتم هذه الطريقة بالأحكام النحوية , أي التعميمات , كوسيلة لتعليم اللغة الأجنبية وضبط صحتها.
4_ كثيراً ما يلجأ المعلم الذي يستخدم هذه الطريقة إلى التحليل النحوي لجمل اللغة المنشودة ويطلب من طلابه القيام بهذا التحليل . واهتمامها بالتعليم عن اللغة المنشودة أكثر من اهتمامها بتعليم اللغة ذاتها .
الطريقة المباشرة :
تمتاز هذه الطريقة بما يلي: الاهتمام بمهارة الكلام، بدلاً من مهارتي القراءة والكتابة، وعدم اللجوء إلى الترجمة عند تعليم اللغة الأجنبية، مهما كانت الأسباب، وعدم تزويد الطالب بقواعد اللغة النظرية، والاكتفاء بتدريبه على قوالب اللغة وتراكيبها، والربط المباشر بين الكلمة والشيء الذي تدل عليه، واستخدام أسلوب المحاكاة والحفظ، حتى يستظهر الطلاب جملاً كثيرة باللغة الأجنبية .ومما يؤخذ على هذه الطريقة: أن اهتمامها بمهارة الكلام، جعلها تهمل مهارات اللغة الأخرى، كما أن تحريمها استعمال الترجمة في التعليم (حتى عند الضرورة) يؤدي إلى ضياع الوقت، وبذل جهد كثير من المدرس والطالب، كما أنَّ الاعتماد على التدريبات النمطية، دون تزويد الطالب بقدر من الأحكام والقواعد النحوية، يحرم الطالب من إدراك حقيقة التركيب النحوي، والقاعدة التي تحكمه.
وبإيجاز فإنّ هذه الطريقة تمتاز بما يلي :
1_ تعطي الطريقة المباشرة الأولوية لمهارة الكلام بد لا من مهارة القراءة والكتابة والترجمة , على أساس أن اللغة هي الكلام بشكل أساسي .
2_ تتجنب هذه الطريقة استخدام الترجمة في تعليم اللغة الأجنبية وتعتبرها عديمة الجدوى , بل شديدة الضرر على تعليم اللغة المنشودة وتعلمها .
3_ بموجب هذه الطريقة , فإن اللغة الأم لا مكان لها في تعليم اللغة الأجنبية .
4_ تستخدم هذه الطريقة الاقتران المباشر بين الكلمة وما تدل عليه , كما تستخدم الاقتران المباشر بين الجملة والموقف الذي تستخدم فيه . ولهذا سميت الطريقة بالطريقة المباشرة .
5_ لا تستخدم هذه الطريقة الأحكام النحوية , لأن مؤيدي هذه الطريقة يرون أن هذه الأحكام لا تفيد في إكساب المهارة اللغوية المطلوبة .
6_ تستخدم هذه الطريقة أسلوب " التقليد والحفظ " حيث يستظهر الطلاب جملاً باللغة الأجنبية وأغاني ومحاورات تساعدهم على إتقان اللغة المنشودة .
الطريقة السمعية الشفهية
من أهم أسس هذه الطريقة :عرض اللغة الأجنبية على الطلاب مشافهة في البداية، أما القراءة والكتابة، فيقدمان في فترة لاحقة، ويعرضان من خلال مادة شفهية، دُرِّب الطالب عليها .ينحصر اهتمام المدرس في المرحلة الأولى في مساعدة الطلاب على إتقان النظام الصوتي والنحوي للغة الأجنبية، بشكل تلقائي. ولا يصرف اهتمام كبير في البداية لتعليم المفردات، إذ يكتفى منها بالقدر الذي يساعد الطالب على تعلم النظام الصوتي والنحوي للغة الأجنبية . وترى هذه الطريقة وضع الدارس في مواجهة اللغة، حتى يمارسها ويستخدمها. ولا مانع من اللجوء إلى الترجمة، إذا استدعى الأمر ذلك. وينبغي استعمال الوسائل السمعية والبصرية بصورة مكثفة، واستخدام أساليب متنوعة لتعليم اللغة، مثل المحاكاة والترديد والاستظهار، والتركيز على أسلوب القياس، مع التقليل من الشرح، والتحليل النحوي.وبدلا من ذلك يتم تدريب الطلاب تدريباً مركزاً على أنماط اللغة وتراكيبها النحوية . ومما يؤخذ على هذه الطريقة، الاهتمام بالكلام على حساب المهارات الأخرى، والاعتماد على القياس، دون الأحكام النحوية، والإقلال من اللجوء إلى الترجمة.
الطريقة الانتقائية
ترى هذه الطريقة أن المدرس حر في اتباع الطريقة التي تلائم طلابه؛ فله الحق في استخدام هذه الطريقة، أو تلك. كما أن من حقه أن يتخيَّر من الأساليب، ما يراه مناسباً للموقف التعليمي، فهو قد يتبع أسلوبا من أساليب طريقة القواعد والترجمة، عند تعليم مهارة من مهارات اللغة، ثم يختار أسلوباً من أساليب الطريقة السمعية الشفهية في موقف آخر. وقد نبعت فلسفة هذه الطريقة من الأسباب التالية: لكل طريقة محاسنها التي تفيد في تعليم اللغة، ولا توجد طريقة مثالية تخلو من القصور، وطرائق التعليم تتكامل فيما بينها ولا تتعارض، وليس هناك طريقة تناسب جميع الأهداف والطلاب والمدرسين والبرامج. وتأتي الطريقة الانتقائية رداً على الطرق الثلاث السابقة . والافتراضات الكامنة وراء هذه الطريقة بإيجاز هي :
1_ كل طريقة في التدريس لها محاسنها ويمكن الاستفادة منها في تدريس اللغة الأجنبية .
2_ لا توجد طريقة مثالية تماماً أو خاطئة تماماً ولكل طريقة مزايا وعيوب وحجج لها وحجج عليها .
3_ من الممكن النظر إلى الطرق الثلاث السابقة على أساس أن بعضها يكمل البعض الآخر بدل من النظر إليها على أساس أنها متعارضة أو متناقضة . وبعبارة أخرى , من الممكن النظر إلى الطرق الثلاث على أنها متكاملة بدل من كونها متعارضة أو متنافسة أو متناقضة .
4_ لا توجد طريقة تدريس واحدة تناسب جميع الأهداف وجميع الطلاب وجميع المعلمين وجميع أنواع برامج تدريس اللغات الأجنبية .
5_ المهم في التدريس هو التركيز على المتعلم وحاجاته , وليس الولاء لطريقة تدريس معينة على حساب حاجات المتعلم .
6_ على المعلم أن يشعر أنه حر في استخدام الأساليب التي تناسب طلابه بغض النظر عن انتماء الأساليب لطرق تدريس مختلفة . إذ من الممكن أن يختار المعلم من كل طريقة الأسلوب أو الأساليب التي تناسب حاجات طلابه وتناسب الموقف التعليمي الذي يجد المعلم نفسه فيه .
الطريقة التواصلية الاتصالية
تجعل هذه الطريقة هدفها النهائي اكتساب الدارس القدرة على استخدام اللغة الأجنبية وسيلة اتصال، لتحقيق أغراضه المختلفة. ولا تنظر هذه الطريقة إلى اللغة، بوصفها مجموعة من التراكيب والقوالب، مقصودة لذاتها، وإنما بوصفها وسيلة للتعبير عن الوظائف اللغوية المختلفة، كالطلب والترجي والأمر والنهي والوصف والتقرير ...إلخ. وتعرض المادة في هذه الطريقة، لا على أساس التدرج اللغوي، بل على أساس التدرج الوظيفي التواصلي.ويتم العمل فيها عبر الأنشطة المتعددة، داخل الوحدة التعليمية. وتعتمد طريقة التدريس على خلق مواقف واقعية حقيقية، لاستعمال اللغة مثل: توجيه الأسئلة، وتبادل المعلومات والأفكار، وتسجيل المعلومات واستعادتها، وتستخدم المهارات لحل المشكلات والمناقشة والمشاركة ...إلخ .
طرق تدريس الللغة العربية
الطريقة الإلقائية :
والتي يسمع فيها صوت المعلم أكثر من صوت تلاميذه .
الطريقة القياسية :
ويتم فيها البدء بالقاعدة ثم تأتي الأمثلة لتوضيح القاعدة .
الطريقة الاستقرائية ( الاستنتاجية ) :
وفيها تعرض الأمثلة ثم تستنبط القاعدة .
الطريقة الجمعية :
ويتم فيها الجمع بين الطريقتين الاستقرائية القياسية .
الطريقة الحوارية :
ويتم فيها الوصول للحقائق عن طريق الحوار وإبداء الآراء .
الأهداف السلوكية وأهمية صياغتها
الأهداف السلوكية / هي نواتج تعليمية متوقع من التلميذ أداؤها بعد عملية التدريس ويمكن أن يلاحظها المعلم ويقيسها .
وتظهر أهمية صياغة الأهداف السلوكية لكل معلم فيما يلي :
- تساهم صياغة الأهداف السلوكية في صياغة فقرات الاختبار أو تحديد أساليب التقويم
- تنظيم صياغة الأهداف عمل المعلم اليومي وتزيد في هذا العمل ثقته بنفسه .
- صياغة الأهداف السلوكية تسهل كثيرا عمليتي التعليم والتعلم .
- صياغة الأهداف السلوكية تجعل العلم يقوم بعملية تحليل المحتوى للموضوع الدراسي المقرر
- تكشف صياغة الأهداف السلوكية عن الإجراءات التدريسية المناسبة كطريقة التدريس والوسائل التعليمية والأنشطة الأخرى .
أفعال عامة قابلة لأكثر من تفسير يقابلها أفعال خاصة سلوكية قابلة للقياس
تجربة لمعالجة ضعف التلاميذ في الإملاء
طريقة الجمع :
تقوم طريقة الجمع على أساس استخدام خاصية الجمع لدى التلاميذ بتكيفهم أن يجمعوا في بطاقات خاصة بهم كلمات هجائية على رسم خاص مثلا:مجموعة من كلمات تنتهي بتاء مفتوحة أو مربوطة أو كلمات تكتب بلامين أو كلمات ترسم فيها الهمزة على واو أو على ياء أو كلمات ينطق آخرها ألفا ولكنها تكتب ياء.
طريقة البطاقات:
وهي تعليم الإملاء بطريقة التدريب الفردي
تعد لذلك بطاقات تكتب فيها طائفة كبيرة من الكلمات تخضع لقاعدة من قواعد الإملاء ، مثل بطاقات لكلمات في وسطها همزة مكسورة وأخرى تشتمل على كلمات آخرها همزة قبلها ساكن وثالثة على كلمات تكتب بلامين ...... وهكذا حتى تستوفي قواعد الإملاء في تلك البطاقات ، فإذا أخطأ تلميذ في رسم كلمة أعطي البطاقة الخاصة برسم هذه الكلمة ليقوم بالتدريب عليها وتشرح له القاعدة بعد التدريب متى كان في إمكانه فهمها .
ومن المفيد في السنوات الأولى من المرحلة الابتدائية استخدام نوع آخر من البطاقات السالفة الذكر فتعد لهم بطاقات تشتمل كل منها على قصة قصيرة أو أي موضوع مناسب وتنتزع من هذه الموضوعات بعض كلماتها ويترك مكانها خاليا وتكتب هذه الكلمات في أعلى البطاقة وعلى التلميذ أن ينقل هذه البطاقة في كراسته واضعا تلك الكلمات في أماكنها الخالية .
ويمكن أن يقوم التلاميذ بعمل هذه البطاقات تحت إشراف المعلم .